BONPES.COM – Malam belum genap pukul delapan, tapi Pasar Sentral Kota Gorontalo sudah berubah wajah. Bukan lagi riuh pedagang bahan pokok seperti pagi hari, melainkan riuh anak-anak muda yang duduk lesehan di kursi lipat ala berkemah, mengelilingi meja-meja portabel berhias lampu kecil, sambil menyeruput kopi atau menikmati makanan dari booth-booth yang berjejer di sepanjang lorong pasar.
Pemandangan serupa juga terlihat di sejumlah kedai kopi kekinian yang terus menjamur di kota ini, ramai sejak siang hingga larut malam. Sepintas ini hanya soal tren nongkrong biasa. Namun jika ditelisik lebih jauh, potret kecil ini sebenarnya mewakili sesuatu yang jauh lebih besar, yakni bagaimana generasi muda hari ini mencari pelarian dari beban yang menghimpit mereka.
Himpitan Ekonomi Membayangi Hidup Generasi Z
Beban itu bukan sekadar perasaan. Survei Deloitte Global Gen Z and Millennial Survey 2025 terhadap hampir 23.500 responden di 44 negara mendapati 48 % Gen Z mengaku tidak merasa aman secara finansial, melonjak tajam dari hanya 30 % pada tahun sebelumnya. Di Indonesia, hasilnya senada. Sun Life Asia Financial Resilience Index 2025 menemukan hanya 49 % Gen Z merasa aman secara finansial. Angka ini jauh di bawah milenial yang 61 % dan generasi baby boomer yang 63 %. Riset aplikasi keuangan Frich terhadap komunitas pengguna Gen Z bahkan menemukan hampir separuh dari mereka tidak punya dana darurat sama sekali. Lebih dari seperempatnya punya utang yang jumlahnya melebihi tabungan.
Badan Pusat Statistik Provinsi Gorontalo juga mencatat bahwa Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) meningkat dari 3,05 % pada Februari 2024 menjadi 3,12 % pada Februari 2025. Itu berarti 19.817 tidak memiliki pekerjaan. Pada Februari 2026 angka TPT kembali naik menjadi 3,17 %. Sementara itu, Upah Minimum Provinsi (UMP) Gorontalo 2026 ditetapkan sebesar Rp3.405.144. Jumlah ini naik 5,7 % dari tahun sebelumnya. Nilai ini memang sedikit di atas standar Kebutuhan Hidup Layak (KHL) yang ditetapkan Rp3.398.395, tetapi selisihnya hanya sekitar Rp6.749. Kenaikan ini hampir tidak memberi ruang untuk menabung, apalagi berinvestasi untuk masa depan. Persentase penduduk miskin di Provinsi Gorontalo pada September 2025 juga masih bertahan di angka 12,62 %. Kesenjangan antara wilayah kota dan desa juga masih lebar. Dalam kondisi seperti ini, wajar jika anak muda Gorontalo merasa masa depan keuangan mereka sangat rapuh.
Namun di saat yang sama, gaya hidup nongkrong dan konsumsi hiburan di kota ini justru makin ramai. Kedai kopi baru terus muncul di berbagai sudut kota. Kawasan Pasar Sentral berubah menjadi tempat berkumpul anak muda begitu malam tiba. Gerai-gerai kopi waralaba nasional juga selalu ramai pengunjung dari siang sampai larut malam. Fenomena ini menunjukkan pola yang sama dengan yang terjadi secara nasional.
Di Bawah Tekanan Hidup, Self-Reward Jadi Pilihan
Sistem ekonomi kapitalisme, yang menjadi dasar utama dalam mengelola ekonomi hari ini, menciptakan kesenjangan antara biaya hidup yang terus naik dan pendapatan pekerja yang tidak ikut meningkat. Harga barang pokok, sewa tempat tinggal, dan biaya pendidikan terus naik. Sementara itu di Gorontalo, upah minimum hanya naik sedikit. Kenaikan ini jauh di bawah kenaikan beban hidup yang dirasakan setiap hari. Hal ini dikarenakan negara dalam sistem ini biasanya hanya bertindak sebagai wasit di pasar tenaga kerja. Negara tidak menjamin pemenuhan kebutuhan dasar rakyatnya. Akibatnya, generasi muda harus berjuang sendiri menghadapi mekanisme pasar yang tidak pernah benar-benar berpihak pada mereka.
Tekanan tersebut semakin diperparah dengan adanya budaya sekuler liberal yang pada dasarnya menganggap bahwa kebahagiaan sebagai sesuatu yang dapat dibeli. Akhirnya, self-reward, healing, bahkan konsumsi hedonis cenderung menjadi solusi dari kelelahan hidup yang dihadapi sebagian besar anak muda. Tidak hanya itu, paparan media sosial setiap hari menyuguhkan potongan hidup orang lain yang tampak serba berkecukupan memicu rasa takut tertinggal (fear of missing out), yang pada gilirannya mendorong belanja impulsif. Akhirnya, demi memenuhi gaya hidup, banyak anak muda, termasuk yang berpenghasilan pas-pasan, rela mengambil pinjaman online, demi bisa nongkrong di kafe, membeli barang bermerek, atau menonton konser.
Akan tetapi, di balik tekanan ekonomi dan gaya hidup konsumtif itu, ada masalah yang jauh lebih mendasar dan sering luput dari perhatian. Banyak pemuda sebenarnya tidak pernah benar-benar paham untuk apa hidup ini dijalani. Ketika hidup kehilangan arah yang jelas, kebahagiaan berubah menjadi sekadar kenikmatan materi yang hanya sesaat. Barang dibeli hari ini, habis esok hari, lalu dicari lagi dalam bentuk yang lain. Nyatanya, siklus ini tidak pernah benar-benar memuaskan, karena yang dikejar hanya kebahagiaan instan, bukan ketenangan yang muncul dari kejelasan tujuan hidup.
Islam Menjamin Kesejahteraan Hidup Generasi Muda
Berbeda halnya dalam Islam. Islam memandang bahwa negara, yakni khilafah wajib memenuhi kebutuhan dasar rakyat. Ini bukan hanya slogan, tetapi perintah syariat yang harus dijalankan oleh negara. Negara mengelola langsung sumber daya alam yang termasuk milik umum, seperti tambang, hutan, dan energi. Hasilnya dikembalikan kepada rakyat lewat layanan pendidikan, kesehatan, dan kebutuhan pokok yang murah atau bahkan gratis. Negara juga wajib menyediakan pekerjaan yang layak untuk setiap laki-laki sebagai kepala keluarga. Dengan begitu, tanggung jawab menafkahi keluarga bisa dijalankan tanpa harus berjuang sendirian menghadapi ketidakpastian hidup.
Generasi muda juga terlindungi dari paparan konten yang bisa merusak cara pandang mereka terhadap kehidupan, termasuk propaganda sekuler kapitalisme dan turunannya yang membuat konsumerisme tampak sebagai jalan menuju kebahagiaan. Media dalam khilafah juga tidak dibiarkan bebas dikuasai oleh kepentingan industri. Melainkan diarahkan sepenuhnya untuk mendidik dan memperkuat ketakwaan rakyat. Dengan begitu, informasi yang diterima generasi muda turut membentuk cara pandang yang Islami bukan malah menjerumuskan.
Islam membangun paradigma yang benar tentang hakikat hidup manusia. Allah SWT berfirman dalam QS Adz-Dzariyat ayat 56: “aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
Jika paradigma ini tertanam kokoh dalam akidah generasi muda, maka standar kebahagiaan akan berubah total. Mereka tidak lagi mengejar kesenangan materi yang sesaat, melainkan mencari ketenangan yang datang dari hubungan dekat dengan Allah. Generasi dengan akidah yang kuat tidak akan mudah terpengaruh oleh gempuran budaya konsumtif. Mereka punya tujuan yang jauh lebih besar. Mereka ingin ikut membangun peradaban Islam, bukan hanya menjadi penikmat pasif dari produk-produk kebahagiaan yang semu.
Dengan tiga pilar ini, jaminan kebutuhan dasar, perlindungan dari budaya hedonis, dan kejelasan visi hidup, persoalan Gen Z yang terhimpit hari ini sesungguhnya bukan persoalan yang mustahil diselesaikan. Yang dibutuhkan bukan sekadar imbauan untuk lebih hemat atau lebih bijak mengelola uang, melainkan perubahan sistem secara menyeluruh, dari sistem yang membiarkan generasi muda berjuang sendirian dan menjual kebahagiaan semu, menuju sistem yang menjamin, melindungi, dan mengarahkan mereka pada tujuan hidup yang sesungguhnya. Penulis : Sity Nur Anisah Djaafar, S.M (Aktivis Muslimah)













