InternasionalNasional

Kebiadaban Zionis Israil dan Pengkhianatan Pemimpin Muslim

158
×

Kebiadaban Zionis Israil dan Pengkhianatan Pemimpin Muslim

Sebarkan artikel ini

BONOPES.COM – Kaum muslim saat ini masih berdarah dan berduka, karena saat ini kita masih menyaksikan tragedi yang paling menyayat hati dan sangat mengerikan serta berkepanjangan. Saat dunia perhatiannya secara global terfokus pada genosida terbuka yang menghancurkan Jalur Gaza, sebuah kejahatan sistematis yang tak kalah kejam sedang berlangsung di Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur.

 

Di wilayah yang selama ini diklaim berada di bawah kendali administratif Otoritas Palestina tersebut, mesin militer Zionis Israel bersama para pemukim ilegal Yahudi melancarkan serangkaian serangan masif, terstruktur, dan sangat brutal. Mereka menargetkan bangunan tempat warga sipil tinggal. bukan hanya itu, tempat yang juga di sasar mereka adalah tempat yang di dalam aturan perang tidak bisa dihancurkan. para zionis Israel sudah sejak lama, dari awal melakukan genosida mereka telah menargetkan tempat atau bangunan apa saja itu.

 

Generasi muda Palestina di Tepi Barat kini dibesarkan dalam bayang-bayang ketakutan, bayonet tentara pendudukan, dan rentetan tembakan peluru tajam selalu terdengar da nada disekitar mereka. Di Gaza tidak ada tempat yang aman bagi anak-anak Palestina; baik di dalam ruang kelas sekolah, di jalanan desa mereka, maupun di dalam kamar tidur rumah mereka sendiri tidak memberi rasa aman pada mereka. Kehidupan anak-anak ini direnggut secara paksa, cita-cita mereka dipadamkan, dan hak-hak dasar mereka sebagai manusia diinjak-injak tanpa ampun oleh rezim rasis pendudukan Zionis.

 

Fakta di lapangan pada Januari 2024 hingga Juli 2026, dimana Lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memverifikasi kematian sedikitnya 174 anak Palestina di Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur. Angka statistik yang mengerikan ini menunjukkan fakta bahwa lebih dari satu anak Palestina dibunuh secara tragis setiap minggunya oleh pasukan pendudukan dan pemukim Yahudi. Para zionis Israel tak pandang bulu dalam melakukan genosida mereka telah melakukan kejahatan yang sangat buruk dan fatal.

 

Pengkhianatan Pemimpin Muslim

Kejahatan zionis Israel pada penduduk gaza sudah sangat membabi buta, serangan tetap dilancarkan walau telah di ketuknya dan dibentuknya organisasi besar berupa Bord of peace (Dewan Perdamaian atau BoP) yang merupakan organisasi internasional yang diinisiasi dan dipimpin oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang secara resmi didirikan pada Januari 2026 di sela-sela Forum Ekonomi Dunia di Davos, Tujuan untuk mengawasi proses transisi, stabilisasi, rekonstruksi pascakonflik, dan pemulihan tata kelola di Gaza setelah berakhirnya perang. Melakukan perdamaian komprehensif (Comprehensive Plan to End the Gaza Conflict) dan didukung lewat Resolusi Dewan Keamanan PBB. Dan Keanggotaan di dalamnya Terdiri dari sejumlah negara pendiri seperti Amerika Serikat, Turki, Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab, Uzbekistan, Vietnam, termasuk Indonesia.

 

Tapi ternyata dibalik pembentukan organisasi ini ada rencana terselubung yang akan di targetkan oleh pihak amerika itu sendiri sebagai penyusung organisasi ini. Sudah sangat jelas karena dalam pembentukan organisasi ini saja tidak melibatkan Negara yang terkena genosida, malah zionis Israel yang jelas melakukan serangan brutal terhadap palestina termaksud dalam organisasi tersebut. Ini kan menunjukan kejanggalan, yang dibela malah tidak tergabung di dilamnya

Dan yang memprihatinkan lagi kenyataan pahit menunjukkan bahwa dunia internasional, khususnya negara-negara Barat yang selalu mengagungkan hak asasi manusia (HAM), justru bersikap munafik dan memberikan impunitas penuh kepada rezim pendudukan Israel. PBB hanya memproduksi retorika keprihatinan, resolusi yang tak berniat dieksekusi, dan laporan statistik tanpa adanya langkah konkret untuk memberhentikan mesin pembunuh Zionis.

Yang jauh lebih menyakitkan dan memilukan adalah sikap para penguasa di negeri-negeri Muslim. Negara-negara tetangga yang memiliki tentara dalam jumlah besar, persenjataan modern, jet tempur canggih, dan anggaran militer berlimpah justru bungkam, tunduk pada kehendak diplomasi Barat, dan tidak berani mengambil langkah nyata untuk memukul mundur Zionis Israel. Sebagian dari mereka bahkan terus melanjutkan proses “normalisasi” hubungan diplomatik dan ekonomi dengan entitas penjajah. Para penguasa ini membiarkan anak-anak Palestina dibantai di depan mata mereka sendiri, terkunci dalam perbatasan buatan (garis Sykes-Picot), dan memilih untuk mempertahankan kursi kekuasaan serta kepentingan geopolitik sempit ketimbang membela darah kaum muslimin yang tercurah.

 

Islam dan Jalan Pembebasan

 

Ketika hukum internasional terbukti mandul dan rezim global kapitalistik mempertahankan kezaliman, Islam hadir memberikan arah kepastian dan solusi hakiki yang bersifat fundamental, sistemik, serta mengikat. Dalam syariat Islam, nyawa khususnya anak-anak dan kaum muslimin itu memiliki nilai yang sangat agung di hadapan Allah SWT. Islam secara mutlak mengharamkan pembiaran (at-takhadzul) terhadap tindakan kejahatan, pembunuhan, dan penderitaan yang menimpa sesama manusia dan kaum muslimin. Allah SWT melarang keras setiap bentuk kezaliman dan memerintahkan kaum beriman untuk membela orang-orang yang tertindas (al-mustadh’afin).

 

“Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa: ‘Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi-Mu, dan berilah kami penolong dari sisi-Mu!’ (QS. An-Nisa [4]: 75)

 

Ayat di atas secara eksplisit menyebutkan jeritan anak-anak yang tertindas sebagai alasan syar’i yang mewajibkan tindakan penolongan dan pengerahan kekuatan militer. Pembiaran yang dilakukan oleh dunia dan para penguasa Muslim terhadap pembantaian, penahanan, dan pelukaan anak-anak di Tepi Barat adalah sebuah dosa besar di hadapan Allah SWT. Kemanusiaan tidak bisa ditegakkan hanya dengan pengiriman bantuan logistik atau retorika belas kasihan semata, melainkan dengan menghentikan secara paksa tangan penjahat yang mengayunkan senjata kepada anak-anak.

 

Untuk mewujudkan perlindungan nyata bagi anak-anak Palestina dan menghentikan kejahatan Zionis, persatuan negeri-negeri Muslim di bawah naungan institusi politik global yaitu Khilafah Islamiyah merupakan kebutuhan yang sangat krusial dan mendesak. Tanpa adanya Khilafah, umat Islam akan terus terpecah-belah dalam lebih dari 50 sekat negara-bangsa (nation-states) yang lemah dan tak berdaya. Khilafah-lah yang akan bertindak sebagai shield (pelindung) utama umat. Rasulullah SAW bersabda:

 

“Sesungguhnya al-Imam (Khalifah) itu adalah perisai, di mana orang-orang akan berperang di belakangnya dan berlindung dengannya.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

 

Di bawah naungan Khilafah, seluruh potensi ekonomi, sumber daya alam, kekuatan geopolitik, dan kekuatan militer dari seluruh negeri-negeri Muslim akan disatukan di bawah satu komando kepemimpinan. Khilafah tidak akan membiarkan anak-anak Palestina berjuang sendirian menghadapi tank dan pesawat tempur, melainkan akan memobilisasi kekuatan penuh negara untuk melindungi setiap tetes darah kaum muslimin.

 

Pengiriman tentara dari negeri-negeri Muslim (seperti Indonesia, Turki, Mesir, Pakistan, Saudi Arabia, dan lainnya) untuk membebaskan Palestina adalah kewajiban hukum syara’ yang mendesak (fardhu ‘ain) ketika tanah Muslim diserang dan diduduki oleh musuh. Tentara-tentara Muslim harus dibebaskan dari belenggu nasionalisme dan perintah penguasa yang penakut. Mereka wajib dikirimkan ke garis depan Tepi Barat dan Gaza untuk menghentikan kejahatan militer Zionis, menghancurkan entitas penjajah, serta mengembalikan tanah Palestina ke pangkuan umat Islam. bukan membiarkan dan menahan para tentara atas nama nasionalisme.

 

Militer Islam Dalam Merespons Penjahat Warga Sipil

Pendekatan Islam terhadap pertahanan dan keamanan sangat berbeda diametral dengan doktrin militer barat atau Barat-Zionis yang menghancurkan tanpa pandang bulu. Islam mengajarkan etika perang yang sangat tinggi, namun pada saat yang sama memberikan ketegasan yang mutlak terhadap penjahat perang dan penduduk ilegal.

 

Ketika tentara Islam dikirimkan di bawah naungan Khilafah, misi utamanya adalah menghentikan agresi dan menetralisir kekuatan militer penjajah. Islam melarang pembunuhan terhadap anak-anak, wanita, dan lansia musuh yang tidak terlibat dalam pertempuran sebagaimana yang dicontohkan oleh rasulullah di saat melakukan fathu makkah. Tetapi terhadap pasukan militer pendudukan dan para pemukim bersenjata yang melancarkan teror kepada warga Palestina di Tepi Barat, hukum perang Islam akan diterapkan secara tegas dan tanpa ragu-ragu.

 

Keberadaan tentara Islam akan memberikan perlindungan langsung kepada anak-anak Palestina, mengakhiri pengepungan kota-kota di Tepi Barat, dan membongkar seluruh pos pemeriksaan (checkpoints) militer Israel yang selama ini menjadi tempat penghinaan dan penyiksaan harian bagi warga Palestina. Dengan hadirnya perisai militer yang seimbang dan unggul, entitas Zionis tidak akan lagi memiliki keberanian untuk menembakkan peluru tajam ke arah anak-anak Palestina atau menculik mereka di tengah malam. Penulis: Nur Hayati Laba, S.Pd (Aktivis Muslimah)

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *