DaerahGorontaloKabupaten BoalemoProvinsi Gorontalo

Hasil Laut untuk Semua: Tradisi Berbagi yang Mengikat Persaudaraan Suku Bajau

1096
×

Hasil Laut untuk Semua: Tradisi Berbagi yang Mengikat Persaudaraan Suku Bajau

Sebarkan artikel ini

BONPES.COM, 4 Juli 2026- Di balik melimpahnya hasil tangkapan nelayan, masyarakat Suku Bajau memiliki sebuah tradisi yang telah diwariskan turun-temurun. Hasil laut yang diperoleh tidak seluruhnya dijual, tetapi sebagian dibagikan kepada saudara, kerabat, tetangga, hingga tamu yang datang. Bagi masyarakat Bajau, berbagi hasil laut bukan sekadar bentuk kemurahan hati, melainkan budaya yang memperkuat ikatan sosial di antara sesama.

Tradisi itu tampak dalam suasana yang tergambar pada foto. Sejumlah warga berkumpul di satu tempat mengelilingi hasil tangkapan yang baru dibawa dari laut. Ikan-ikan tidak langsung dibawa ke pasar, tetapi terlebih dahulu dipilah dan dibagikan kepada keluarga maupun kerabat yang hadir. Momen seperti ini menjadi pemandangan yang lazim dijumpai di perkampungan Bajau ketika nelayan memperoleh hasil tangkapan yang melimpah.

Menariknya, sebelum hasil tangkapan dibagikan dan dipasarkan, masyarakat Bajau secara bergotong royong menjaga ikan tersebut selama hampir semalam. Warga datang silih berganti untuk mengawasi hasil tangkapan agar tetap aman dan terjaga kualitasnya. Tidak hanya para nelayan, kerabat hingga warga sekitar ikut berkumpul, berbincang, dan saling membantu. Kebiasaan ini mencerminkan kuatnya ikatan sosial di tengah masyarakat Bajau, di mana hasil laut dipandang sebagai rezeki bersama yang harus dijaga secara bersama-sama.

Ikan yang berhasil diperoleh dalam tangkapan tersebut adalah ikan bubara, sebutan yang umum digunakan oleh masyarakat Bajau dan berbagai komunitas pesisir di Indonesia Timur untuk kelompok ikan kuwe (Caranx spp.). Ikan pelagis ini dikenal sebagai predator yang hidup di perairan yang masih produktif dan memiliki keterkaitan erat dengan ekosistem pesisir seperti terumbu karang, padang lamun, dan perairan yang sehat. Kehadiran ikan bubara dalam jumlah yang baik menjadi salah satu penanda bahwa rantai makanan di laut masih berjalan dan kualitas lingkungan perairan masih mampu menopang kehidupan berbagai jenis biota laut.

Salah seorang nelayan Bajau, Bahdar Iding, mengatakan kebiasaan berbagi hasil tangkapan masih terus dipertahankan hingga sekarang.

“Kalau hasil tangkapan banyak, memang sering kami bagi. Selain dijual, kami juga berikan kepada keluarga, saudara, atau masyarakat yang datang ke rumah. Itu sudah menjadi kebiasaan kami sejak dulu,” ujarnya.

Bagi masyarakat Bajau, laut bukan hanya ruang untuk mencari nafkah, tetapi juga menjadi bagian dari identitas dan cara hidup. Dari laut pula tumbuh nilai-nilai kebersamaan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Saat hasil tangkapan melimpah, kebahagiaan dianggap belum lengkap jika hanya dinikmati oleh satu keluarga.

Tradisi berbagi ini juga menjadi bentuk jaminan sosial yang hidup di tengah masyarakat. Para nelayan memahami bahwa hasil tangkapan tidak selalu sama setiap hari. Ada masa ketika laut memberikan rezeki berlimpah, tetapi ada pula waktu ketika mereka pulang dengan hasil yang sedikit. Karena itu, budaya saling berbagi menjadi penyangga kehidupan bersama yang lahir dari kesadaran kolektif, bukan dari aturan tertulis.

Tradisi menjaga hasil tangkapan secara bersama-sama sebelum dibagikan juga memperlihatkan bahwa gotong royong masih menjadi nilai yang hidup di tengah masyarakat Bajau. Bagi mereka, menjaga ikan semalaman bukan sekadar mengamankan hasil tangkapan, melainkan menjaga kepercayaan, persaudaraan, dan rasa memiliki terhadap rezeki yang diperoleh dari laut.

Di balik tradisi tersebut, terdapat satu hal yang tidak kalah penting, yakni menjaga kelestarian laut. Tradisi berbagi hasil tangkapan hanya dapat terus berlangsung apabila wilayah perairan tempat masyarakat Bajau mencari nafkah tetap sehat dan produktif. Kerusakan terumbu karang, pencemaran laut, penangkapan ikan yang merusak, maupun berkurangnya ruang tangkap nelayan akan berdampak langsung pada keberadaan ikan-ikan seperti bubara dan pada akhirnya mengancam keberlangsungan tradisi yang telah diwariskan turun-temurun.

Bagi masyarakat Bajau, menjaga laut sejatinya adalah menjaga kehidupan mereka sendiri. Ketika ekosistem laut tetap lestari, ikan akan terus berkembang biak, hasil tangkapan dapat dipertahankan, dan budaya berbagi yang menjadi perekat persaudaraan akan terus hidup dari generasi ke generasi. Dengan demikian, pelestarian lingkungan laut tidak hanya berarti menjaga alam, tetapi juga menjaga identitas, budaya, dan masa depan masyarakat Bajau sebagai suku pelaut.

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *