BONPES.COM — Inovasi digital kembali lahir dari Gorontalo. Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) IAIN Sultan Amai Gorontalo, Fandli Supandi, M.Kom, resmi memperkenalkan Manjonongki, aplikasi kasir dan manajemen usaha yang dirancang untuk membantu kafe, restoran, warung kopi, serta pelaku usaha kuliner mengelola bisnis secara lebih modern dan terukur.
Aplikasi Manjonongki resmi dipasarkan kepada publik pada Rabu (1/6/2026). Kehadirannya menjadi solusi bagi pelaku usaha kuliner yang ingin mengelola transaksi, stok bahan, keuangan, pesanan pelanggan, hingga data karyawan dalam satu sistem yang terintegrasi.
Manjonongki lahir dari pengalaman Fandli yang tidak hanya berperan sebagai akademisi, tetapi juga pelaku usaha kuliner. Selama kurang lebih enam tahun, ia menjalankan Konsep Syndrome Coffee n Eatery di Gorontalo. Dari pengalaman tersebut, ia merasakan langsung berbagai tantangan dalam pengelolaan usaha kafe dan restoran.
Mulai dari pesanan pelanggan yang menumpuk saat jam ramai, kesalahan pencatatan transaksi, stok bahan baku yang habis tanpa diketahui, selisih kas di akhir shift, hingga laporan keuangan yang belum tertata rapi, menjadi persoalan yang sering dihadapi pelaku usaha kuliner.
Fandli kemudian mengembangkan Manjonongki sebagai jawaban atas persoalan tersebut. Aplikasi ini dirancang berdasarkan kebutuhan nyata di lapangan, sekaligus didukung dengan pendekatan akademik dalam pengelolaan bisnis.
“Sebagai dosen, saya terbiasa membedah masalah secara terstruktur. Sebagai pemilik kafe, saya merasakan langsung persoalan itu setiap hari. Manjonongki lahir dari pertemuan keduanya, yaitu analisis yang matang tetapi tetap membumi dan benar-benar bisa digunakan,” ujar Fandli.
Manjonongki tidak hanya berfungsi sebagai aplikasi kasir digital. Aplikasi ini juga memiliki fitur Kitchen Display System atau KDS yang memungkinkan pesanan pelanggan langsung diteruskan secara real-time ke dapur maupun bar.
Dengan fitur tersebut, proses pelayanan menjadi lebih cepat dan risiko kesalahan pesanan dapat diminimalkan. Selain itu, setiap transaksi yang tercatat akan langsung terhubung dengan sistem stok bahan baku.
Saat penjualan terjadi, stok bahan akan berkurang secara otomatis. Pemilik usaha dapat memantau persediaan bahan secara langsung tanpa harus melakukan pencatatan manual yang berulang.
Manjonongki juga membantu pemilik usaha dalam menyusun laporan bisnis. Informasi mengenai omzet, laba bersih, pajak, pengeluaran, metode pembayaran, menu terlaris, modal usaha, hingga selisih kas dapat ditampilkan secara otomatis melalui satu aplikasi.
Fitur lainnya adalah pengelolaan karyawan. Mulai dari absensi, perhitungan gaji, potongan kehadiran, hingga slip gaji digital dapat dikelola secara lebih rapi dan praktis.
“Karena saya sendiri pengguna aplikasi ini, saya tidak ingin membuat sistem yang rumit. Semua fitur dirancang berdasarkan logika bisnis yang benar, tetapi tetap sederhana digunakan oleh kasir, pegawai dapur, barista, maupun pemilik usaha,” kata Fandli.
Sebelum diperkenalkan secara luas, Manjonongki telah digunakan dalam operasional Konsep Syndrome Coffee n Eatery. Aplikasi tersebut diuji langsung dalam aktivitas sehari-hari, mulai dari pencatatan pesanan, pengelolaan stok, pergantian shift kasir, hingga penyusunan laporan keuangan.
Pengalaman penggunaan langsung tersebut membuat Manjonongki tidak hanya menjadi hasil pengembangan teknologi, tetapi juga solusi yang telah disesuaikan dengan kebutuhan pelaku usaha kuliner.
Kini, Manjonongki telah dapat diakses melalui aplikasi Android. Kehadirannya diharapkan mampu membantu pelaku usaha kafe dan restoran, khususnya di Gorontalo, untuk meningkatkan kualitas pengelolaan bisnis agar lebih tertib, transparan, dan efisien.
Fandli berharap aplikasi ini dapat menjadi salah satu sarana bagi pelaku usaha kuliner untuk berkembang dan naik kelas. Dengan dukungan sistem digital yang mudah digunakan, pemilik usaha dapat lebih fokus meningkatkan pelayanan, kualitas produk, serta strategi pengembangan bisnis.
“Harapan saya, Manjonongki dapat membantu kafe, warung kopi, dan restoran untuk naik kelas. Pemilik usaha tidak lagi disibukkan dengan pencatatan manual, tetapi dapat lebih fokus pada pelayanan dan pengembangan bisnis,” tutupnya.













