DaerahKabupaten Boalemo

Dasing Siong Ingatkan Ancaman bagi Ruang Laut Suku Bajau

198
×

Dasing Siong Ingatkan Ancaman bagi Ruang Laut Suku Bajau

Sebarkan artikel ini

BONPES.COM, BOALEMO 3 Juli 2026 – Bagi masyrakat Bajau, laut bukan sekadar tempat mencari ikan, tetapi juga rumah, ruang hidup, dan warisan leluhur yang diwariskan turun-temurun. Di tengah perubahan zaman, kekhawatiran terhadap masa depan ruang laut mulai disuarakan oleh para tetua Bajau.

Salah satunya datang dari Dasing Siong (74), cucu pertama kepala desa pertama ( Martugas ). Sebagai generasi yang tumbuh ketika adat masih menjadi pedoman hidup, Dasing mengaku menyaksikan sendiri perubahan hubungan Masyarakat Bajau dengan laut.

Menurutnya, dahulu laut dipandang sebagai titipan leluhur yang harus dihormati. Orang Bajau  memiliki aturan adat yang mengajarkan keseimbangan antara memanfaatkan hasil laut dan menjaga kelestariannya.

“Kalau dulu, orang tua selalu mengajarkan kami menghormati laut. Ada adat yang dijalankan. Tidak sembarang orang bertindak di laut karena kami percaya laut juga harus dijaga,” kata Dasing.

Namun, nilai-nilai itu perlahan mulai memudar. Ia menilai generasi muda kini semakin jarang mengenal adat yang dahulu menjadi pegangan Masyrakat Bajau.

“Anak-anak sekarang sudah jarang mengetahui adat itu. Padahal dulu adat menjadi pegangan agar manusia tidak serakah terhadap laut,” ujarnya.

Selain memudarnya adat, Dasing juga menyimpan kekhawatiran terhadap masa depan ruang hidup Masyrakat Bajau. Menurutnya, perkembangan pembangunan dan semakin beragamnya pemanfaatan wilayah pesisir perlu tetap memperhatikan keberadaan nelayan tradisional yang telah bergantung pada laut selama bergenerasi.

“Saya hanya berharap laut tetap menjadi tempat hidup orang Bajau. Jangan sampai nanti keadaan berubah dan kami semakin sulit mencari ruang untuk melaut,” tuturnya.

Meski tidak pernah menggunakan telepon genggam, Dasing mengaku sering menerima kabar dari keluarga maupun kerabat sesama masyarakat Bajau di berbagai daerah. Dari cerita yang ia dengar, beberapa komunitas Bajau mulai menghadapi tantangan dalam mempertahankan ruang hidup mereka akibat perubahan pemanfaatan kawasan pesisir.

“Saya memang tidak pernah main HP, tetapi saudara-saudara yang datang sering bercerita. Ada yang bilang orang Bajau di tempat lain sudah mulai kesulitan melaut karena ruangnya berubah. Mendengar cerita itu saya jadi ikut khawatir,” katanya.

Kekhawatiran itu juga berangkat dari pengalaman yang pernah ia dengar ketika kawasan Pulau Cinta mulai berkembang sebagai destinasi wisata. Menurut Dasing, sebelum kawasan tersebut dikenal sebagai objek wisata, perairannya merupakan salah satu lokasi yang biasa dimanfaatkan nelayan Bajau untuk mencari ikan.

Namun, seiring berkembangnya kawasan wisata, ia mengaku pernah mendengar cerita dari sejumlah nelayan yang merasa tidak lagi leluasa melaut di sekitar kawasan tersebut dan memilih mencari lokasi lain.

“Saya hanya berharap setiap pembangunan tetap memberi ruang bagi nelayan yang sejak dulu mencari nafkah di laut,” ujarnya.

Meski saat ini Pulau Cinta tidak lagi beroperasi seperti dahulu, Dasing menilai pengalaman tersebut menjadi pelajaran penting. Baginya, perubahan fungsi kawasan pesisir sewaktu-waktu dapat memengaruhi ruang hidup nelayan apabila tidak disertai perhatian terhadap masyarakat yang sejak lama bergantung pada laut.

“Saya berharap pengalaman itu menjadi pengingat. Pembangunan tentu penting, tetapi masyarakat yang lebih dulu hidup dari laut juga harus tetap diperhatikan,” katanya.

Kekhawatiran Dasing sejalan dengan berbagai kajian mengenai masyarakat pesisir. Antropolog kelautan Michael Fabinyi dalam sejumlah penelitiannya menjelaskan bahwa perubahan tata kelola wilayah pesisir, berkembangnya pariwisata, maupun aktivitas ekonomi lainnya dapat memengaruhi akses nelayan tradisional terhadap ruang laut apabila masyarakat lokal tidak dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan.

Hal serupa juga ditegaskan Food and Agriculture Organization (FAO) melalui Voluntary Guidelines for Securing Sustainable Small-Scale Fisheries. Pedoman tersebut menekankan pentingnya melindungi hak akses nelayan skala kecil terhadap wilayah tangkap dan memastikan pembangunan kawasan pesisir berjalan berdampingan dengan perlindungan masyarakat yang telah menggantungkan hidupnya pada laut selama bergenerasi.

Bagi Dasing, laut bukan hanya sumber penghidupan, melainkan bagian dari jati diri masyarakat Bajau yang harus tetap dijaga.

“Laut ini bukan hanya tempat mencari ikan. Laut adalah kehidupan kami. Semoga anak cucu kami nanti masih bisa hidup dari laut seperti yang kami rasakan dulu,” tutupnya.

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *