NasionalOpini

Potret Gen Z: Dari Depresi Menuju Resistensi

163
×

Potret Gen Z: Dari Depresi Menuju Resistensi

Sebarkan artikel ini

BONPES.COM – Fenomena gangguan mental di kalangan remaja kian memprihatinkan. Indonesia Emas 2045 bisa berubah menjadi “Indonesia Cemas” jika anak-anak sebagai generasi masa depan bangsa menghadapi gangguan kecemasan dan depresi.

Pernyataan ini bukan sindiran atau sarkasme terhadap visi Indonesia Emas 2045 yang digalakkan pemerintah, melainkan sebuah alarm serius mengenai kondisi kesehatan jiwa anak di Indonesia.

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan temuan mengkhawatirkan dari hasil program Cek Kesehatan Gratis (CKG) periode 2025-2026. Data terbaru menunjukkan hampir 10 persen atau sekitar 700 ribu anak di Indonesia memiliki gejala gangguan kesehatan jiwa berupa kecemasan dan depresi yang membutuhkan perhatian serius.

Budi menjelaskan program CKG 2025-2026 menyasar sekitar 7 juta anak. Hasilnya menunjukkan bahwa 4,4 persen atau sekitar 338 ribu anak mengalami gejala cemas (anxiety disorder), sementara 4,8 persen atau sekitar 363 ribu anak menunjukkan gejala depresi (depression disorder).
Tekanan media sosial, budaya FOMO (fear of missing out, rasa takut tertinggal tren dan pergaulan), persaingan akademik hingga impitan ekonomi menjadi pemicu serius.

Fenomena ini menggejala di seluruh dunia, dengan ketidakpastian karir dan masa depan membuat gen z bersikap lebih skeptis. Namun, dari kondisi tersebut muncul gelombang resistensi yang diprediksi mampu menjadi titik balik bagi generasi ini.

Mengapa Generasi Menjadi Rapuh?
Di balik kondisi tersebut, terdapat persoalan yang lebih mendasar. Krisis yang melanda generasi muda hari ini bukan sekadar krisis mental, melainkan bagian dari krisis multidimensi yang lahir dari sistem kehidupan yang bermasalah.

Dalam peradaban sekuler kapitalistik, manusia didorong mengejar standar kesuksesan material yang tinggi, sementara nilai-nilai yang membentuk ketenangan jiwa semakin tersisih. Media sosial memperkuat budaya perbandingan hidup, sementara sistem ekonomi menciptakan kesenjangan yang membuat banyak anak muda merasa tertinggal.

Namun, menariknya, dari rahim penderitaan dan skeptisisme tersebut, kini mulai muncul benih-benih gelombang resistensi. Kekecewaan yang terakumulasi ini diprediksi mampu menjadi titik balik kebangkitan bagi generasi yang kerap dianggap rapuh ini.

Di tengah himpitan sistemis ini, negara yang seharusnya hadir sebagai pengurus dan pelindung justru tampak abai. Hilangnya fungsi riayah (pengurusan) negara terhadap generasi muda membuat mereka harus berjuang sendirian di tengah lautan ketidakpastian ekonomi dan rusaknya tatanan sosial. Alih-alih dirangkul, didengar, dan difasilitasi, Generasi Z justru sering kali dipojokkan dan mendapat stigma buruk dicap sebagai ‘generasi strawberry’, manja, atau serba salah oleh generasi-generasi di atasnya.

Seperti Apa Semestinya?
Di sinilah peranan ideologi Islam menjadi sangat krusial. Islam bukan sekadar agama ritual, melainkan sebuah mabda (ideologi) yang hadir sebagai solusi komprehensif atas krisis multidimensi yang melanda dunia saat ini. Penerapan syariat Islam secara kaffah dijamin akan mendatangkan Rahmatan lil ‘Alamin. Dengan aturan yang berasal dari Sang Pencipta, Islam menawarkan pandangan hidup yang kokoh, melepaskan manusia dari perbudakan materi, serta membawa ketenangan rohani dan keselamatan hidup di dunia maupun akhirat.

Sejarah peradaban telah mencatat dengan tinta emas bagaimana karakter generasi pemuda pada masa kejayaan Islam. Mereka bukanlah generasi cemas atau pemuja eksistensi maya, melainkan pemuda dengan Syakhshiyah Islamiyah (kepribadian Islam) yang sangat tangguh. Sebut saja Usamah bin Zaid, Muhammad Al-Fatih, hingga para ilmuwan Muslim yang tak hanya faqih dalam urusan agama, namun juga sangat cakap dalam berbagai bidang keilmuan, teknologi, dan kepemimpinan.

Ketangguhan generasi Islam ini juga tidak lepas dari dukungan penuh sistem negaranya. Dalam Islam, negara Islam (Khilafah) memposisikan dirinya sebagai raa’in (pengurus) dan junnah (pelindung) umat. Negara memiliki kewajiban mutlak untuk menjamin pemenuhan kebutuhan dasar hidup manusia secara adil mulai dari pendidikan, kesehatan, hingga lapangan pekerjaan. Dengan jaminan riayah dari negara, generasi muda tidak akan lagi dihantui oleh kecemasan ekonomi, sehingga mereka bisa fokus berkarya dan membangun peradaban.

Oleh karena itu, ini adalah saatnya bagi Gen Z untuk mengarahkan gelombang resistensi mereka pada jalan yang benar. Membongkar depresi menjadi energi perlawanan ideologis. Pemuda hari ini harus disadarkan untuk mau mengkaji dan mengemban mabda Islam, serta memiliki kepedulian yang tinggi terhadap kondisi umat yang tengah terpuruk. Dengan menjadikan Islam sebagai panduan gerak dan perjuangan, niscaya kebangkitan umat dan masa depan emas bukan lagi sebatas angan-angan, melainkan sebuah janji yang akan segera terwujud. Penulis : Nisa Polinggapo, S.S (Aktivis Muslimah)

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *