BONPES.COM , GORONTALO 10 Juli 2026 – Di tengah suasana duka yang menyelimuti kepergian Rahmat Gobel, ada satu pemandangan yang begitu menyentuh. Seorang penjual pisang sederhana datang dari Kabila dengan harapan dapat memberikan penghormatan terakhir kepada sosok yang selama ini dikenalnya sebagai orang yang selalu hadir membantu masyarakat kecil.
Ia berdiri cukup lama di sekitar lokasi yang sebelumnya disebut-sebut akan menjadi tempat persemayaman. Wajahnya tampak lelah, tetapi matanya terus menatap ke arah rumah Rahmat Gobel. Sesekali ia menarik napas panjang, seolah masih berharap rombongan pembawa jenazah akan datang.
Melihat hal itu, tim redaksi mencoba mendekatinya untuk berbincang. Namun, beberapa kali pertanyaan yang kami ajukan tidak mendapat jawaban. Tatapannya kosong, terus mengarah ke rumah Rahmat Gobel. Bahkan, ketika kami mencoba menanyakan namanya, ia seakan tidak mendengar. Kesedihan yang ia rasakan tampak membuatnya larut dalam pikirannya sendiri.
Setelah beberapa saat terdiam, pria itu akhirnya berbicara dengan suara pelan.
“Beliau selalu menolong saya. Saya hanya ingin membalas jasa beliau,” ucapnya.
Kalimat itu kembali ia ulangi beberapa kali. Baginya, kedatangan hari itu bukan untuk mencari perhatian ataupun meminta bantuan. Ia datang hanya karena ingin mengantar doa terakhir bagi seseorang yang pernah hadir dalam perjalanan hidupnya.
Ia mengaku tidak membawa apa-apa. Tidak ada karangan bunga, tidak ada bingkisan, bahkan ongkos yang dimilikinya pun sangat terbatas. Namun, ada satu hal yang menurutnya jauh lebih berharga.
“Saya tidak punya uang. Saya hanya punya doa untuk beliau,” katanya lirih sambil kembali mengarahkan pandangan ke rumah Rahmat Gobel.
Harapan itu akhirnya pupus setelah ia mengetahui bahwa jenazah Rahmat Gobel tidak jadi dibawa dan dimakamkan di Gorontalo. Ia hanya tertunduk. Tak ada amarah, tak ada keluhan. Yang tersisa hanyalah kesedihan dari seseorang yang merasa kehilangan figur yang selama ini dikenalnya sebagai penolong masyarakat kecil.
Kisah penjual pisang tersebut menjadi gambaran kecil tentang bagaimana Rahmat Gobel meninggalkan jejak di hati banyak orang. Di mata masyarakat bawah, Rahmat Gobel bukan sekadar politisi atau tokoh nasional. Ia dikenal sebagai sosok yang tidak membangun jarak dengan rakyat. Ia hadir di pasar-pasar, menemui pedagang kecil, nelayan, petani, hingga pelaku usaha mikro. Banyak warga mengenangnya karena bantuan, perhatian, maupun kesediaannya mendengar langsung keluhan mereka.
Kedekatan itu membuat nama Rahmat Gobel tidak hanya dikenang melalui jabatan yang pernah diembannya, tetapi juga melalui hubungan kemanusiaan yang ia bangun bersama masyarakat. Di Gorontalo, tidak sedikit warga yang menyebutnya sebagai salah satu politisi yang merakyat, karena ia dinilai mampu hadir tanpa sekat dan menjadikan rakyat kecil sebagai bagian penting dari pengabdiannya.
Tangisan penjual pisang dari Kabila itu menjadi simbol bahwa kehilangan seorang pemimpin tidak selalu diukur dari banyaknya tokoh yang datang melayat. Ada kesedihan yang lebih sunyi, tetapi jauh lebih tulus, yaitu ketika masyarakat kecil merasa kehilangan seseorang yang pernah hadir di tengah kesulitan mereka.
Di balik pakaian sederhana dan gerobak tempatnya mencari nafkah, pria itu membawa satu niat yang mungkin tak pernah tercatat dalam protokoler kenegaraan: mengucapkan terima kasih untuk terakhir kalinya. Meski kesempatan itu tidak pernah datang, doa yang ia bawa tetap terpanjat untuk sosok yang, menurutnya, telah memberi arti dan harapan bagi kehidupan orang-orang kecil.
Bagi sebagian orang, Rahmat Gobel mungkin dikenang sebagai seorang negarawan. Namun bagi penjual pisang itu, ia akan selalu dikenang sebagai orang yang pernah berhenti sejenak untuk menolong, mendengar, dan mengulurkan tangan tanpa pernah bertanya siapa yang sedang dibantunya.













