BONPES.COM – Konflik di Gaza telah menimbulkan penderitaan kemanusiaan yang sangat besar, terutama bagi anak-anak. Berbagai laporan dari badan-badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan organisasi kemanusiaan menggambarkan tingginya jumlah korban anak, baik yang meninggal dunia, mengalami luka berat, kehilangan anggota keluarga, maupun menghadapi trauma psikologis yang mendalam. Kondisi ini menjadi perhatian serius masyarakat internasional karena dampaknya akan dirasakan hingga generasi mendatang.
Seperti dilansir dari Kompas.com, Di Gaza, perang tidak hanya menghancurkan bangunan, rumah sakit, sekolah, dan kamp pengungsian, tetapi juga masa depan bangsa yang berada di tangan anak-anak. Laporan terbaru Komisi Penyelidikan Internasional Independen Perserikatan Bangsa-Bangsa, Selasa (23/6/2026), menyebutkan, otoritas dan tentara Israel secara sengaja menargetkan anak-anak Palestina selama perang yang terjadi sejak serangan Hamas ke Israel, 7 Oktober 2023.
Berikut dilansir dari CNN Indonesia, Juru bicara UNICEF James Elder menyatakan, pasukan Israel telah menewaskan sedikitnya 265 anak-anak di Gaza sejak gencatan senjata diumumkan. Selain korban tewas, lebih dari 400 anak-anak juga dilaporkan mengalami luka-luka sejak Oktober 2025. Banyak di antara mereka yang menderita luka berat dan fatal.
Dan korban jiwa terus bertambah, dan ini memperlihatkan bahwa gencatan senjata tidak mampu melindungi anak-anak Palestina dari serangan Israel.
Dari sini terlihat bahwa Zion*s melakukan segala cara (termasuk membunuh anak-anak) demi meraih tujuan mereka, yaitu menguasai seluruh wilayah Palestina dan mewujudkan Isr**l raya. Mereka tidak peduli gencatan senjata dan kecaman lembaga PBB, genosida tetap terus mereka lakukan.
satu hal yang tidak dapat diperdebatkan adalah bahwa anak-anak seharusnya tidak menjadi korban perang. Mereka memiliki hak untuk hidup, memperoleh pendidikan, layanan kesehatan, rasa aman, dan masa depan yang layak. Oleh karena itu, perlindungan terhadap anak-anak harus menjadi prioritas semua pihak yang terlibat dalam konflik maupun komunitas internasional.
Namun tidak dengan zion*s, sebab yang perlu diketahui oleh seluruh dunia bahwa kita tidak bisa berharap Zion*s melunak (misalnya dengan pergantian PM), maupun pada PBB (yang terbukti gagal dengan puluhan resolusinya), genjatan senjata hanyalah Solusi parsial yang tidak mampu menyelesaikan masalah palestina, pun berharap pada PBB selamanya tidak bisa mencegah pembantai yang terjadi dipalestina. bahkan Negeri muslim lain makin merapat pada AS dan Zion*s karena paham nasionalisme dan politik kapitalistik.
Pun Bantuan kemanusiaan sudah mengalir dari berbagai penjuru dunia untuk Palestina. kenyataannya mayoritas bantuan itu tidak sampai, karena truk-truk bantuan dicegat, ditahan, bahkan dibom. Kapal bantuan seperti Global Sumud Flotilla diambil alih di tengah laut. Alhasil, bantuan-bantuan tidak bisa masuk ke Gaza. Siapa pelakunya? Tidak lain dan tidak bukan adalah Zion*s dengan dukungan Amerika Serikat (AS).
Seandainya pemberian bantuan itu cukup untuk menghentikan derita rakyat Gaza, sekaligus Palestina, niscaya persoalan genosida telah selesai. Namun, nyatanya derita anak-anak Gaza tidak kunjung usai, meski bantuan terus mengalir dari berbagai arah.
Solusi bagi penderitaan anak-anak Gaza tidak cukup hanya dengan mengirimkan dokter untuk mengobati luka fisik dan psikoterapis untuk mengobati jiwa mereka. Selama masih ada entitas Zion*s, serangan demi serangan akan terus dialami oleh anak-anak Gaza dan mereka tidak lepas dari trauma.
Oleh karenanya, pembelaan kita bagi Gaza tidak cukup dengan memberikan bantuan kemanusiaan, tetapi harus menyolusi akar masalahnya, yaitu keberadaan entitas Zion*s yang melakukan genosida dengan dukungan AS.
Untuk mengusir Zion*s dari tanah Palestina, dibutuhkan kekuatan militer yang mumpuni, karena akan menghadapi Zion*s sekaligus AS. Kekuatan militer yang sepadan untuk menghadapi keduanya haruslah berasal dari negara yang besar, bukan dari milisi, mengingat AS saat ini merupakan pemimpin dalam hal industri militer.
Oleh karenanya, kita tidak bisa berharap pada lembaga internasional seperti PBB maupun pada negara-negara muslim. PBB sudah terbukti gagal melindungi Palestina dari serangan Zion*s. PBB hanya bisa mengeluarkan resolusi tanpa aksi berarti. Selain itu, faktanya PBB berada dalam dominasi AS sebagai pemegang hak veto sehingga mustahil PBB berjalan ke arah yang tidak dikehendaki AS.
Sedangkan negara-negara muslim telah lama terbelenggu nasionalisme sehingga tidak mau membebaskan Palestina. Mereka juga berada dalam dominasi AS, terbukti bahwa di negara-negara muslim (terutama Timur Tengah), banyak terdapat pangkalan militer AS yang justru menjadi basis dukungan militer untuk Zion*s.
Para penguasa muslim itu mengikuti arahan AS untuk mendukung solusi dua negara. Padahal, penyelesaian masalah Palestina tidak bisa terwujud dengan solusi dua negara. Pun mengikuti solusi dua negara berarti mengakui keabsahan entitas Zion*s, padahal mereka sejatinya adalah perampok terhadap wilayah Palestina. Pengakuan terhadap keabsahan entitas Zion*s sama dengan mendukung pendudukan terhadap Palestina.
Derita anak-anak Palestina harus diakhiri. Kita tidak boleh membiarkan mereka terluka hingga trauma. Pembebasan Palestina dari pendudukan Zion*s hanya bisa diwujudkan oleh Sistem islam, karena hanya sistem islamlah satu-satunya negara yang memiliki visi politik luar negeri berupa dakwah dan jihad. Sistem islam berposisi sebagai pelindung bagi seluruh negeri-negeri muslim, sebagaimana sabda Rasulullah saw.,
إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ
“Sesungguhnya imam (khalifah) itu perisai yang (orang-orang) akan berperang mendukungnya dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)-nya.” (HR Muttafaq alaih).
Sistem islam h akan menyatukan negeri-negeri muslim di bawah naungannya dan menyatukan seluruh potensi mereka, termasuk militer. Dengan persatuan negeri-negeri muslim di bawah Khilafah, umat Islam akan kuat menghadapi Zion*s, AS, dan negara-negara sekutunya.
Dengan demikian, anak-anak Gaza tidak akan menderita lagi. Mereka akan kembali ceria bermain dengan teman, berkumpul dengan keluarga, bersekolah, dan menyongsong masa depan yang cerah di bawah perlindungan panji-panji Islam.
Allah swt berfirman :
“Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan atau menguasai orang-orang mukmin.” (Qs An-nisa : 141)
Tafsir Ibnu Katsir : Allah tidak akan membiarkan kaum kafir memadamkan cahaya Islam atau memusnahkan seluruh umat Islam dari muka bumi.
Maka, Satu-satunya harapan pembebasan Palestina ada pada sistem islam. Sistem islam adalah satu-satunya institusi politik Islam yang akan melakukan jihad fisabilillah untuk mengalahkan Zion*s dan membebaskan Palestina. Sistem islam juga mewujudkan perlindungan bagi anak-anak Palestina, baik terhadap jiwa, kesehatan fisik dan mental, pendidikan, kesejahteraan, maupun seluruh aspek masa depan mereka.
Sayangnya sistem islam hari ini belum terterapkan, untuk itu sistem islam adalah qadhiyah masiriyah umat yang harus diperjuangkan penegakannya. Walalhualam bisawab. Penulis: Ela Taruna, S.Pd.













