BONPES.COM,BOALEMO — Komunitas Literasi Tolotahu menegaskan komitmennya untuk mengambil bagian dalam upaya pencegahan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika melalui gerakan literasi, aktivitas kreatif, dan penyediaan ruang ekspresi bagi generasi muda.
Komitmen tersebut disampaikan Ketua Komunitas Literasi Tolotahu, Andrianto R Bakari, usai mengikuti Workshop Penggiat Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN) yang digelar Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Boalemo di Aula Dinas Kesehatan Kabupaten Boalemo, Rabu (23/9/2026).
Kegiatan tersebut dibuka Wakil Bupati Boalemo, Lahmudin Hambali, S.Sos., M.Si., yang dalam pemaparannya menekankan pentingnya keterlibatan organisasi dan komunitas dalam upaya pencegahan narkotika.
Menurut Lahmudin, persoalan narkotika tidak dapat hanya dibebankan kepada pemerintah maupun aparat penegak hukum. Organisasi masyarakat dan komunitas memiliki ruang strategis untuk membawa pesan pencegahan ke lingkungan masing-masing.
Ia juga mengingatkan agar kegiatan P4GN tidak berhenti pada seremoni dan penyampaian materi, tetapi dilanjutkan dengan kegiatan nyata yang dapat menyentuh masyarakat, terutama generasi muda.
Pandangan tersebut dinilai sejalan dengan kerja Komunitas Literasi Tolotahu yang selama ini menjadikan literasi sebagai ruang pendidikan dan ekspresi bagi masyarakat.
Andrianto mengatakan, keikutsertaan Tolotahu dalam workshop bukan sekadar memenuhi undangan kegiatan, melainkan bagian dari komitmen komunitas untuk berkolaborasi dalam membangun lingkungan yang lebih positif bagi generasi muda.
“Bagi kami di TOLOTAHU, keterlibatan ini bukan hanya sekadar hadir. Ini adalah perwujudan komitmen kami bahwa literasi adalah benteng P4GN yang paling kuat,” kata Andrianto.
Menurutnya, pencegahan narkotika perlu dilakukan dengan memahami kondisi sosial yang dihadapi anak-anak dan generasi muda. Salah satu persoalan yang perlu diperhatikan adalah tersedianya ruang positif bagi mereka untuk belajar, berkarya, dan mengekspresikan diri.
“Kami percaya, narkoba masuk karena ruang kosong. Ruang kosong karena anak-anak kita kekurangan bahan bacaan positif, kekurangan aktivitas kreatif, dan kekurangan ruang ekspresi. Tugas kami di TOLOTAHU adalah mengisi ruang kosong itu,” ujarnya.
Ia menilai gerakan literasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca dan menulis. Lebih dari itu, literasi dapat menjadi sarana membangun cara berpikir kritis, memperluas pengetahuan, serta menciptakan aktivitas yang membuat generasi muda memiliki pilihan kegiatan yang produktif.
Karena itu, Andrianto menyebut kolaborasi antara pemerintah, BNNK, organisasi masyarakat, komunitas literasi, keluarga, dan lingkungan pendidikan penting untuk membangun pencegahan yang berkelanjutan.
“Pencegahan tidak cukup hanya dengan mengatakan narkoba itu berbahaya. Kita juga harus menyediakan ruang agar anak-anak memiliki kegiatan yang positif, memiliki lingkungan yang mendukung, dan punya keberanian untuk berekspresi,” katanya.
Ia berharap keterlibatan Tolotahu dalam agenda P4GN dapat menjadi awal dari kerja sama yang lebih konkret, terutama dalam mengembangkan kegiatan literasi dan kreativitas yang menyasar anak-anak serta generasi muda di Boalemo.
Menurutnya, semangat P4GN harus diterjemahkan dalam berbagai bentuk kegiatan yang dekat dengan masyarakat. Literasi, diskusi, kelas kreatif, kegiatan membaca, dan ruang ekspresi dapat menjadi bagian dari upaya tersebut.
Workshop P4GN yang diikuti berbagai organisasi dan komunitas di Boalemo itu pun dinilai menjadi ruang penting untuk mempertemukan berbagai pendekatan dalam pencegahan narkotika.
Bagi Tolotahu, keterlibatan komunitas dalam P4GN bukan tentang memperbanyak kegiatan seremonial, melainkan bagaimana setiap komunitas mampu menggunakan ruang yang dimilikinya untuk membangun kesadaran dan memberikan alternatif positif bagi masyarakat.
Andrianto menegaskan, Tolotahu siap mengambil bagian dalam kerja kolaboratif tersebut melalui gerakan literasi.
“Kalau ruang kosong tidak kita isi dengan pengetahuan, kreativitas, dan aktivitas positif, ruang itu akan diisi oleh hal lain. Karena itu, kami memilih mengisinya dengan literasi,” pungkasnya.













